PEDULI WARISAN BANGSA,

INDONESIA MEMBENTUK KOMISI NASIONAL

MEMORY OF THE WORLD 

 

Widya Graha – LIPI,

Jakarta, 22 Agustus 2005

 

 

 

Indonesia dikenal sebagai negara dan bangsa yang telah dianugerahi sumberdaya alam melimpah, berbagai ragam budaya, peninggalan sejarah dan kekayaan intelektual serta pengetahuan tradisional yang tak ternilai harganya. Namun, banyak warisan kekayaan pusaka, peninggalan sejarah, budaya dan kejadian-kejadian penting yang telah terekam dan terdokumentasikan dalam berbagai bentuk (batu, kulit, daun, kertas, kaset, VCD, dsb.) diketahui semakin lama semakin menghilang karena berbagai alasan misalnya keausan, kerusakan, kejadian perang, kejadian bencana atau sebab kelalaian manusia lainnya.

 

Untuk itu, kiranya sangat perlu upaya-upaya pelestarian atau kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan preservasi dokumentasi berbagai kekayaan asli Indonesia; Diperlukan pula upaya-upaya untuk memberikan kemudahan akses dan peningkatan kesadaran kelembagaan dan atau masyarakat luas akan keberadaan dan keaslian dokumentasi atas kekayaan yang dimiliki.

 

Terhadap tawaran dari Unesco tentang Memory of the World, yaitu sebuah program yang mendokumentasikan warisan yang tak ternilai harganya dari berbagai belahan dunia agar dapat diakses, dipahami, dikomunikasikan serta perlu dijaga kelestariannya bagi masyarakat sekarang dan generasi mendatang, maka sudah saatnya Indonesia menyambut baik tawaran tersebut dengan mendiskusikannya dalam sebuah forum seminar  dan  segera membentuk Komisi Nasional Memory of the World.

 

Dalam seminar yang diprakarsai oleh Kementerian Ristek dan LIPI tersebut, Ketua LIPI, Umar Anggara Jenie mengatakan bahwa saat ini kita telah memasuki era masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan, dimana masyarakat dapat saling berbagi pengetahuan dengan yang lain. Peranan internet yang semakin nyata dalam masyarakat akan memberikan kesempatan dalam interaksi dan pendokumentasian warisan budaya serta pengetahuan dari berbagai bangsa-bangsa di dunia.

 

Sementara itu, Stephen Hill dari Unesco mengatakan, kini saatnya Indonesia bergabung dengan 65 negara lainnya dalam program Memory of the World sehingga warisan budaya dan pusaka dari bangsa Indonesia yang menjadi dokumen penting dunia dapat diakses dan dipahami oleh masyarakat lainnya serta dapat dijaga kelestariannya secara bersama-sama.

 

Senada dengan Stephen Hill, pada kesempatan itu Ketua KNIU (Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco), Arief Rachman menambahkan agar kiranya LIPI dapat ditunjuk sebagai Ketua dan sekaligus sebagai formatur dalam penyusunan Komisi Nasional Memory of the World dan bersama-sama dengan lembaga yang lain dapat segera merealisasikan program Memory of the World dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dalam seminar ini,  hadir pembicara, seorang pakar dari Thailand, Rujasa Abhakorn yang menguraikan program Memory of the World serta menyampaikan pengalaman-pengalamannya dalam kegiatan tersebut.

 

Menristek, Kusmayanto Kadiman, dalam kata sambutan untuk membuka seminar, mengharapkan agar Komisi yang terbentuk nantinya harus dapat menyusun strategi dan program tanpa meninggalkan kaidah etika yang berlaku secara universal dalam memayungi seluruh kepentingan pengamanan pengetahuan berbagai disiplin illmu, budaya, peninggalan sejarah, kejadian-kejadian penting yang sangat bermanfaat bagi perkembangan generasi mendatang baik yang ada di lingkup nasional maupun internasional.  Lebih lanjut, Kusmayanto Kadiman menyampaikan bahwa seminar  sehari yang bersifat sosialisasi tentang apa dan bagaimana Memory of the World ini dapat membangkitkan keingintahuan, memotivasi berbagai kelembagaan termasuk NGO untuk secara bersama memberikan yang terbaik bagi kepentingan generasi mendatang.

 

 

 

----- HRS ---