PEDULI WARISAN BANGSA,
INDONESIA MEMBENTUK KOMISI NASIONAL
MEMORY OF THE WORLD
Indonesia
dikenal sebagai negara dan bangsa yang telah dianugerahi sumberdaya alam
melimpah, berbagai ragam budaya, peninggalan sejarah dan kekayaan intelektual
serta pengetahuan tradisional yang tak ternilai harganya. Namun, banyak warisan
kekayaan pusaka, peninggalan sejarah, budaya dan kejadian-kejadian penting yang
telah terekam dan terdokumentasikan dalam berbagai bentuk (batu, kulit, daun,
kertas, kaset, VCD, dsb.) diketahui semakin lama semakin menghilang karena
berbagai alasan misalnya keausan, kerusakan, kejadian perang, kejadian bencana
atau sebab kelalaian manusia lainnya.
Untuk
itu, kiranya sangat perlu upaya-upaya pelestarian atau kegiatan-kegiatan yang
berhubungan dengan preservasi dokumentasi berbagai kekayaan asli Indonesia;
Diperlukan pula upaya-upaya untuk memberikan kemudahan akses dan peningkatan
kesadaran kelembagaan dan atau masyarakat luas akan keberadaan dan keaslian
dokumentasi atas kekayaan yang dimiliki.
Terhadap
tawaran dari Unesco tentang Memory of the World, yaitu sebuah program yang
mendokumentasikan warisan yang tak ternilai harganya dari berbagai belahan
dunia agar dapat diakses, dipahami, dikomunikasikan serta perlu dijaga
kelestariannya bagi masyarakat sekarang dan generasi mendatang, maka sudah
saatnya Indonesia menyambut baik tawaran tersebut dengan mendiskusikannya dalam
sebuah forum seminar dan segera membentuk Komisi Nasional Memory of the
World.
Dalam seminar
yang diprakarsai oleh Kementerian Ristek dan LIPI tersebut, Ketua LIPI, Umar
Anggara Jenie mengatakan bahwa saat ini kita telah memasuki era masyarakat yang
berbasis ilmu pengetahuan, dimana masyarakat dapat saling berbagi pengetahuan
dengan yang lain. Peranan internet yang semakin nyata dalam masyarakat akan
memberikan kesempatan dalam interaksi dan pendokumentasian warisan budaya serta
pengetahuan dari berbagai bangsa-bangsa di dunia.
Sementara itu,
Stephen Hill dari Unesco mengatakan, kini saatnya Indonesia bergabung dengan 65
negara lainnya dalam program Memory of the World sehingga warisan budaya dan
pusaka dari bangsa Indonesia yang menjadi dokumen penting dunia dapat diakses
dan dipahami oleh masyarakat lainnya serta dapat dijaga kelestariannya secara
bersama-sama.
Senada dengan
Stephen Hill, pada kesempatan itu Ketua KNIU (Komisi Nasional Indonesia untuk
Unesco), Arief Rachman menambahkan agar kiranya LIPI dapat ditunjuk sebagai
Ketua dan sekaligus sebagai formatur dalam penyusunan Komisi Nasional Memory of
the World dan bersama-sama dengan lembaga yang lain dapat segera merealisasikan
program Memory of the World dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dalam seminar
ini, hadir pembicara, seorang pakar
dari Thailand, Rujasa Abhakorn yang menguraikan program Memory of the World
serta menyampaikan pengalaman-pengalamannya dalam kegiatan tersebut.
Menristek,
Kusmayanto Kadiman, dalam kata sambutan untuk membuka seminar, mengharapkan
agar Komisi yang terbentuk nantinya harus dapat menyusun strategi dan program
tanpa meninggalkan kaidah etika yang berlaku secara universal dalam memayungi
seluruh kepentingan pengamanan pengetahuan berbagai disiplin illmu, budaya,
peninggalan sejarah, kejadian-kejadian penting yang sangat bermanfaat bagi
perkembangan generasi mendatang baik yang ada di lingkup nasional maupun
internasional. Lebih lanjut, Kusmayanto
Kadiman menyampaikan bahwa seminar
sehari yang bersifat sosialisasi tentang apa dan bagaimana Memory of the
World ini dapat membangkitkan keingintahuan, memotivasi berbagai kelembagaan
termasuk NGO untuk secara bersama memberikan yang terbaik bagi kepentingan
generasi mendatang.
-----
HRS ---